Wednesday, August 10, 2016

Melatih Keadaan Nafsu

Para ulama telah bersepakat bahwa nafsu itu pemotong dan pemustus tali hubungan antara hati manusia dengan Allah SWT, dan hubungan tersebut tidak akan tersambung lagi, kecuali setelah nafsu ditundukkan dan diendapkan serta dikekang. Dalam hubungan dengan nafsu ini, manusia dibagi menjadi dua, yaitu :
  1. Golongan mansuia yang hatinya dipimpin oleh hawa nafsu, sehingga ia menjadi budaknya yang selalu menuruti kemauan nafsunya.
  2. Golongan manusia yang hatinya berisi kebenaran dan memimpin nafsunya, sehingga ia tidak mengumbar nafsu syaithan yang menyesatkan dan membawanya ke neraka.
Allah berfirman dalam surat An-Nazi'at ayat 37-41, yang artinya :
"Maka barang siapa yang durhaka, dan mengutamakan kehidupan dunia, sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang yang takut akan kebesaran Allah (Tuhannya) dan menahan diri dari gejolak nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya"

Seorang Arif pernah berkata, "Perjuangan orang-orang yang mencari (keutamaan) berakhir pada hawa nafsunya. Maka barang siapa orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya, maka ia akan bahagia karena mendapatkan kemenangan. Dan sebaliknya, barang siapa orang yang dikalahkan oleh hawa nafsunya, maka ia akan mendapatkan kerugian"

Hawa nafsu itu cenderung mengajak hati kepada kejelekan dan kejahatan serta menyuruh kita untuk mementingkan kehidupan duniawi. Sedangkan Allah SWT mengajak hamba-Nya untuk menuju kepada-Nya dengan takwa dan mengekang hawa nafsu. Kadang-kadang hati kita berada diantara dua seruan, terkadang dapat mengalahkan nafsunya dan terkadang dikalahkan oleh nafsunya. Disinilah ajang tempat untuk ujian dan cobaan dari nafsu Allah SWT.

Ada 3 pembagian nafsu yaitu :
1. An-Nafsul Muthmainnah 
Jika hawa nafsu itu tenang dengan berdzikir kepada Allah, senantiasa tunduk kepada-Nya, rindu untuk selalu bertemu dengan-Nya. Nafsu ini dinamakan Al Muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa yang tenang inilah yang dipanggil oleh Allah dengan penuh ridha, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Fajr ayat 27-28 yang artinya :

"Wahai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh ridha lagi diridhai"

An-Nafsul muthmainnah selalu tentram dan tenang didalam menjalankan perintah-perintah-Nya, ia tidak mendahulukan kemauan atau hawa nafsunya, juga tidak taklit dalam melakukan perintah tersebut. Ia juga tidak mencampur adukkan yang subhat dan salah paham yang bertentangan dengan tuntunan yang sesungguhnya, dan juga tidak menurut syahwat yang menyalahi perintah. Apabila hal-hal ini sifatnya meragukan, ia menganggapnya sebagai bisikan syaitan, yang mana ia lebih suka dirinya dijatuhkan dari langit daripada menemui hal-hal yang subhat tersebut.  

2. An-Nafsul Lawwamah
An-Nafsul Lawwamah ialah nafsu yang tidak tetap dalam satu keadaan, ia selalu berubah-ubah dan berbolak-balik, terkadang sadar, terkadang lalai, adakalanya menerima dan adakalanya mengelak, sewaktu-waktu taat kepada dan sewaktu-waktu membantah. An-Nafsul Lawwamah diabagi menjadi dua yaitu yang An-Nafsul Lawwamah Tercela dan An-Nafsul Lawwamah Tidak Tercela. Adapun An-Nafsul Lawwamah Tercela yaitu nafsu yang zalim dan dicela oleh Allah SWT dan para malaikat-Nya. Pemilik nafsu ini selalu menuruti kemauan nafsunya dan tidak berusaha untuk selalu taat kepada Allah, nafsu yang sudah tenggelam dalam cinta dunia dan tidak mendapat cahaya petunjuk dari-Nya. Sedangkan An-Nafsul Lawwamah Tidak Tercela yaitu nafsu yang senantiasa dicela oleh pemiliknya manakala berbuat tidak taat kepada Allah, dan disertai dengan usaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri. Sebaik-baiknya pemilik nafsu adalah orang yang selalu mencela dirinya atas ketidaktaatannya kepada Allah SWT. Ia selalu mengoreksi terhadap kejelekannya, tetapi tidak terpengaruh dengan celaan manusia dalam rangka taat kepada-Nya.

3. An-Nafsul Amarah Bissu'
Nafsu ini adalah nafsu yang tercela, karena ia selalu memerintah untuk berbuat yang jelek. Seseorang yang tidak lepas dari kejahatannya, kecuali firman-Nya dalam Al Qur'an surat An-Nur ayat 21, yang artinya :

"Dan seandainya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya atas kamu, niscaya tidak sucilah seorang pun dari kamu untuk selama-lamanya"

Jadi kejahatan dan kejelekan itu tersembunyi di dalam jiwa, dan mendorong ke arah perbuatan-perbuatan yang jelek. Jika Allah SWT tidak memberikan pertolongan-Nya kepada jiwa seseorang hamba, maka celakalah dia, binasalah ditengah-tengah keburukan nafsunya dan amalan-amalan buruk yang disebabkan oleh jiwa tersebut. Tetapi jika Allah SWY memberikan pertolongan-Nya, maka selamatlah ia dari kejahatan jiwanya. Oleh sebab itu, kita mohon kepada Allah agar dilindungi dari kejahatan jiwa atau nafsu kita dan amalan-amalan buruk ditimbulkan dari kejahatan jiwa (nafsu) tersebut.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata "Aku dan nafsuku tidak pernah ada, kecuali hanya seorang pengembala kambing. Sering kali dia menggiring kambingnya dari satu arah, maka kambing-kambing itu kembali berpancar lewat arah yang lain. Dan barang siapa yang berhasil membunuh nafsu, maka ia akan dikafani dengan rahmat dan dikebumikan dengan kemuliaan. Dan barang siapa yang hatinya mati (mengumbar hawa nafsunya), maka ia akan dikafani dengan laknat dan dikebumikan di bumi dengan kesiksaan"


Keutamaan Menuntut Ilmu

Dalam Al-Qur'an banyak sekali beberapa dalil tentang keutamaan menuntut ilmu, diantaranya adalah :
1. Surat Al-Mujadalah ayat 11
"Allah akan mengangkat orang-orang yang berilmu yang mempunyai ilmu diantara kamu dengan beberapa derajat".

2. Surat Az-Zumar ayat 9
"Katakanlah : Samakah orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu?"

3. Surat Al-Fatih ayat 28
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah ulama"

4. Surat Al-Ankabut ayat 43
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia dan tiada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu"


Disamping banyak firman Allah yang menjelaskan tentang ilmu dan keutamaannya, banyak pula hadits-hadits Rasulullah yang mendukungnya, diantaranya :
1. Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw bersabda "
"Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga"

2. Hadits riwayat Imam Muslim dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan ra. Rasulullah Saw bersabda :
"Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan baginya, maka Dia akan memberikan pemahaman kepadanya tentang masalah agama"

3. Rasulallah Saw bersabda :
"Para ulama' pewaris para nabi"

4. Rasulallah Saw bersabda :
"Manusia yang paling utama ialah orang mukmin yang alim dan bermanfaat jika dibutuhkan. Jika ia tidak dibutuhkan, maka iapun mencukupi dirinya"

Demikian besar perhatian agama Islam mengenai keutamaan menuntut ilmu, Ibu Abbas pernah mengatakan "Para ulama mempunyai derajat-derajat di atas orang-orang mukmin sebanya tujuh ratus derajat, dan jarak antara dua derajat adalah perjalanan lima ratus tahun"

Imam Al-Gazali mengatakan : Allah mengangkat derajat orang-orang dengan ilmu, lalu menjadikan mereka dalam kebaikan sesuai sebagai pemimpin dan pemberi petunjuk yang diikuti, petunjuk dalam kebaikan, jejak mereka diikuti dan perbuatan-perbuatan mereka diamalkan.

Para malaikat ingin menghiasi mereka dan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya. Setiap benda yang basah dan yang kering bertasbih bagi mereka dan memohon ampun bagi mereka, bahkan ikan-ikan di laut dan binatang-binatang, hewan-hewan buas dan ternak-ternak di daratan serta bintang-bintang dilangit. Karena ilmu menghidupkan hati dan menerangi pandangan yang gelap serta menguatkan badan yang lemah. Dan ilmu hamba mencapai kedudukan orang-orang yang shalih serta derajat yang tinggi. Memikirkan ilmu sama dengan puasa dan mengkajinya sama dengan sembayang malam. Dengan ilmu Allah ditaati dan disembah serta di-esakan. Dengan ilmu manusia berhati-hati dalam mengamalkan agama dan memelihara hubungan silaturrahim kekeluargaan. Ilmu adalah pemimpin dan amal adalah pengikutnya. Orang yang mendapat ilmu adalah orang yang bahagia dan orang-orang yang tidak mendapatkannya adalah orang yang sengsara.

Adapun dari segi akal, adalah jelas, bahwa ilmu itu sesuatu yang utama, karena dengan ilmu manusia sampai kepada sang Khaliq yaitu Allah SWT, dan menjadi dekat dengan-Nya. Ia juga mendapat kebahagiaan yang abadi dan juga nikmat yang kekal. Ilmu memberikan kebahagian baik di dunia maupu di akhirat. Dunia adalah ladang akhirat. Maka orang alim dengan ilmunya menanam kebahagiaan abadi karena ia mendidik akhlaknya sesuai dengan ketentuan ilmu. Barangkali pula dengan abadi karena ia mendidik orang lain dan menyeru mereka kepada perbuatan-perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Al-Hasan ra. berkata, Ilmu itu ada dua macam, yaitu ilmu dalam kalbu dan ilmu lisan. Dan ilmu yang mula-mula diangkat (oleh Allah) adalah ilmu kalbu, yaitu ilmu batin yang memperbaiki dan meluruskan hati. Ilmu lisan merupakan hujjah yang dapat mengalahkan orang lain dalam suatu masalah. Ilmu lisan akan bercokol, dan tetap bercokol ketika ilmu hati sudah hilang, sehingga manusia meremehkannya dan tidak tahu apa yang dituntut oleh ilmu tersebut, baik mereka itu orang-orang yang memiliki ilmu ini maupun orang lain yang tidak memilikinya, dan ilmu semacam ini akan hilang lenyap dan pergi dengan kepergian si pemiliknya. Saat itulah terjadi kiamat dan huru-hara atas orang-orang yang sesat dan jahat.

Allah mengangkat ilmu (menghilangkan ilmu) kalbu dengan cara mewafatkan para ulama', sebagaimana hadits Rasulallah Saw yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Umar ra. ia berkata bahwa Rasulallah Saw bersabda :
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada-dada manusia, melainkan Dia mencabutnya dengan cara mematikan para ulama'. Dan dikala tidak lagi ada seorang alim-pun, manusia akan menjadi orang bodoh sebagai pemimpin. Kemudian mereka ditanya (dimintai fatwa). Mereka pun berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan".

Imam Al-Khalil bin Ahmad menggolongkan manusia menjadi empat :
  1. Orang yang mengetahui dan ia mengetahui bahwa dirinya mengetahui. Itulah orang alim, maka ikutilah dia.
  2. Orang yang mengetahui tetapi ia tidak mengetahui bahwa dirinya mengetahui. Itulah orang  yang sedang tertidut, maka bangunkanlah dia.
  3. Orang yang tidak mengetahui tetapi ia mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Itulah orang yang membutuhkan ilmu, maka ajarilah dia.
  4. Orang yang tidak mengetahui dan ia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. itulah orang yang bodoh, maka waspadalah terhadapnya.

Dari keempat golongan manusia diatas, golongan yang pertama adalah golongan yang terbaik, yaitu orang yang mengetahui dirinya sadar bahwa dirinya mengetahui, kemudian ia mengamalkan ilmunya kepada manusia karena Allah, maka itulah orang yang diangkat derajatnya disisi Allah SWT