Dalam Al-Qur'an banyak sekali beberapa dalil tentang keutamaan menuntut ilmu, diantaranya adalah :
1. Surat Al-Mujadalah ayat 11
"Allah akan mengangkat orang-orang yang berilmu yang mempunyai ilmu diantara kamu dengan beberapa derajat".
2. Surat Az-Zumar ayat 9
"Katakanlah : Samakah orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu?"
3. Surat Al-Fatih ayat 28
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah ulama"
4. Surat Al-Ankabut ayat 43
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia dan tiada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu"
Disamping banyak firman Allah yang menjelaskan tentang ilmu dan keutamaannya, banyak pula hadits-hadits Rasulullah yang mendukungnya, diantaranya :
1. Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw bersabda "
"Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga"
2. Hadits riwayat Imam Muslim dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan ra. Rasulullah Saw bersabda :
"Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan baginya, maka Dia akan memberikan pemahaman kepadanya tentang masalah agama"
3. Rasulallah Saw bersabda :
"Para ulama' pewaris para nabi"
4. Rasulallah Saw bersabda :
"Manusia yang paling utama ialah orang mukmin yang alim dan bermanfaat jika dibutuhkan. Jika ia tidak dibutuhkan, maka iapun mencukupi dirinya"
Demikian besar perhatian agama Islam mengenai keutamaan menuntut ilmu, Ibu Abbas pernah mengatakan "Para ulama mempunyai derajat-derajat di atas orang-orang mukmin sebanya tujuh ratus derajat, dan jarak antara dua derajat adalah perjalanan lima ratus tahun"
Imam Al-Gazali mengatakan : Allah mengangkat derajat orang-orang dengan ilmu, lalu menjadikan mereka dalam kebaikan sesuai sebagai pemimpin dan pemberi petunjuk yang diikuti, petunjuk dalam kebaikan, jejak mereka diikuti dan perbuatan-perbuatan mereka diamalkan.
Para malaikat ingin menghiasi mereka dan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya. Setiap benda yang basah dan yang kering bertasbih bagi mereka dan memohon ampun bagi mereka, bahkan ikan-ikan di laut dan binatang-binatang, hewan-hewan buas dan ternak-ternak di daratan serta bintang-bintang dilangit. Karena ilmu menghidupkan hati dan menerangi pandangan yang gelap serta menguatkan badan yang lemah. Dan ilmu hamba mencapai kedudukan orang-orang yang shalih serta derajat yang tinggi. Memikirkan ilmu sama dengan puasa dan mengkajinya sama dengan sembayang malam. Dengan ilmu Allah ditaati dan disembah serta di-esakan. Dengan ilmu manusia berhati-hati dalam mengamalkan agama dan memelihara hubungan silaturrahim kekeluargaan. Ilmu adalah pemimpin dan amal adalah pengikutnya. Orang yang mendapat ilmu adalah orang yang bahagia dan orang-orang yang tidak mendapatkannya adalah orang yang sengsara.
Adapun dari segi akal, adalah jelas, bahwa ilmu itu sesuatu yang utama, karena dengan ilmu manusia sampai kepada sang Khaliq yaitu Allah SWT, dan menjadi dekat dengan-Nya. Ia juga mendapat kebahagiaan yang abadi dan juga nikmat yang kekal. Ilmu memberikan kebahagian baik di dunia maupu di akhirat. Dunia adalah ladang akhirat. Maka orang alim dengan ilmunya menanam kebahagiaan abadi karena ia mendidik akhlaknya sesuai dengan ketentuan ilmu. Barangkali pula dengan abadi karena ia mendidik orang lain dan menyeru mereka kepada perbuatan-perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Al-Hasan ra. berkata, Ilmu itu ada dua macam, yaitu ilmu dalam kalbu dan ilmu lisan. Dan ilmu yang mula-mula diangkat (oleh Allah) adalah ilmu kalbu, yaitu ilmu batin yang memperbaiki dan meluruskan hati. Ilmu lisan merupakan hujjah yang dapat mengalahkan orang lain dalam suatu masalah. Ilmu lisan akan bercokol, dan tetap bercokol ketika ilmu hati sudah hilang, sehingga manusia meremehkannya dan tidak tahu apa yang dituntut oleh ilmu tersebut, baik mereka itu orang-orang yang memiliki ilmu ini maupun orang lain yang tidak memilikinya, dan ilmu semacam ini akan hilang lenyap dan pergi dengan kepergian si pemiliknya. Saat itulah terjadi kiamat dan huru-hara atas orang-orang yang sesat dan jahat.
Allah mengangkat ilmu (menghilangkan ilmu) kalbu dengan cara mewafatkan para ulama', sebagaimana hadits Rasulallah Saw yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Umar ra. ia berkata bahwa Rasulallah Saw bersabda :
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada-dada manusia, melainkan Dia mencabutnya dengan cara mematikan para ulama'. Dan dikala tidak lagi ada seorang alim-pun, manusia akan menjadi orang bodoh sebagai pemimpin. Kemudian mereka ditanya (dimintai fatwa). Mereka pun berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan".
Imam Al-Khalil bin Ahmad menggolongkan manusia menjadi empat :
- Orang yang mengetahui dan ia mengetahui bahwa dirinya mengetahui. Itulah orang alim, maka ikutilah dia.
- Orang yang mengetahui tetapi ia tidak mengetahui bahwa dirinya mengetahui. Itulah orang yang sedang tertidut, maka bangunkanlah dia.
- Orang yang tidak mengetahui tetapi ia mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Itulah orang yang membutuhkan ilmu, maka ajarilah dia.
- Orang yang tidak mengetahui dan ia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. itulah orang yang bodoh, maka waspadalah terhadapnya.
Dari keempat golongan manusia diatas, golongan yang pertama adalah golongan yang terbaik, yaitu orang yang mengetahui dirinya sadar bahwa dirinya mengetahui, kemudian ia mengamalkan ilmunya kepada manusia karena Allah, maka itulah orang yang diangkat derajatnya disisi Allah SWT
No comments:
Post a Comment